Ikuti Simulasi Bawaslu Membelajarkan, Bawaslu Probolinggo Siap Berinovasi
|
PROBOLINGGO – Membangun SDM pengawas pemilu yang tangguh tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Sadar akan kebutuhan tersebut, jajaran Bawaslu Kabupaten Probolinggo kembali merapatkan barisan dengan mengikuti agenda "Inovasi Kompetensi Melalui Simulasi Bawaslu Membelajarkan".
Kegiatan yang digelar secara daring pada Senin (6/4) ini mempertemukan pengawas tingkat Kabupaten/kota se-Jawa Timur. Bukan sekadar tatap muka virtual biasa, forum ini menjadi arena pemanasan bagi seluruh jajaran untuk saling mengasah keterampilan pengawasan dan kehumasan.
Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Timur, Dewita Hayu Shinta, yang hadir memberikan arahan, langsung menyoroti fondasi dasar dalam proses belajar. Menurutnya, sebelum melangkah jauh ke tahap praktik lapangan, setiap individu harus kuat secara teori.
“Silakan pelajari dulu modulnya, pahami bagian mana yang perlu di-highlight. Dari situ kita bisa menentukan fokus yang relevan dengan pekerjaan kita selama ini,” pesan Dewita.
Dalam proses belajar yang ideal, tahapannya memang berjenjang—mulai dari membedah modul, pelatihan, praktik, sampai presentasi hasil. Dewita mengakui bahwa di lapangan, Bawaslu sering kali harus melakukan penyesuaian metode agar lebih taktis. Namun, ia menegaskan esensinya pantang berubah: belajar, mempraktikkan, dan berbagi pengetahuan.
Menariknya, Bawaslu Jatim paham betul bahwa setiap daerah memiliki karakteristik yang unik. Pendekatan 'satu ukuran untuk semua' dinilai kurang efektif. Karena itu, Dewita mewanti-wanti agar jajaran di daerah cermat ketika memilih fokus pembelajaran.
“Kalau tema ini dibebaskan sepenuhnya, pasti ada bagian yang mungkin tidak relate dengan kondisi lokal daerah. Makanya, Bawaslu Provinsi Jawa Timur sudah membagi tema-tema tersebut agar gerak kita bisa lebih terarah,” jelasnya.
Lantas, bagaimana jika jajaran di daerah masih kesulitan memvisualisasikan ide dari modul? Dewita memberikan solusi yang sangat relevan dengan era digital saat ini: jadikan media sosial sebagai ruang perpustakaan. Peserta didorong untuk 'ngulik' video-video di kanal Instagram maupun YouTube milik Bawaslu RI dan Bawaslu Provinsi Jawa Timur. Referensi visual ini sangat berguna untuk memancing ide segar, terutama dalam meracik narasi yang menarik dan tidak kaku di mata publik.
Bawaslu Jatim juga tidak membiarkan kabupaten/kota berjalan sendirian. Ruang konsultasi dan pendampingan, khususnya untuk urusan produksi narasi dan video, dibuka lebar. Peserta bisa langsung sharing dan meminta tips dari tiga pimpinan Bawaslu Jatim yang sudah berpengalaman di program serupa.
Di balik fleksibilitas ruang belajar tersebut, kedisiplinan tetap menjadi kunci. Dewita mengingatkan seluruh jajaran, termasuk Person in Charge (PIC) di masing-masing wilayah, untuk terus mengawal deadline tugas agar tidak ada yang tertinggal.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian belajar dan membedah modul ini akan bermuara pada satu momen apresiasi. “Sampai bertemu di Penghargaan Bawaslu Membelajarkan Bawaslu Provinsi Jawa Timur!” seru Dewita menutup arahannya dengan nada optimis.
Bagi Bawaslu Kabupaten Probolinggo, kegiatan ini jelas menjadi pecutan semangat tersendiri. Ini bukan sekadar ajang unjuk gigi, melainkan investasi jangka panjang untuk memperkuat kelembagaan yang lebih profesional, berintegritas, dan tentunya adaptif dalam menjawab tantangan pengawasan di masa depan.
Editor: Humas Bawaslu Probolinggo
Dokumentasi: Bawaslu Jatim