Tola' Ediy Ajak Siswa SMK Genggong Kawal Pemilihan Ketua OSIS Sejak Dini
|
Probolinggo — Suasana aula SMK Hafsawati Zainul Hasan Genggong tampak berbeda pada Senin (27/7). Puluhan siswa berkumpul mengikuti kegiatan sosialisasi demokrasi yang menghadirkan Anggota Bawaslu Kabupaten Probolinggo, Tola' Ediy, sebagai narasumber. Bukan sekadar seremoni tahunan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan dini soal pentingnya pengawasan dalam proses demokrasi, sekalipun konteksnya "hanya" pemilihan Ketua OSIS.
Dalam paparannya yang bertajuk "Pendidikan Demokrasi & Pengawasan Pemilihan Ketua OSIS: Pembinaan & Sosialisasi Pencegahan Pelanggaran Pemilu Sejak Dini", Tola' Ediy mengajak para siswa untuk melihat OSIS bukan sekadar organisasi sekolah biasa, melainkan miniatur demokrasi tempat mereka belajar kedaulatan, kepemimpinan, dan integritas sebelum benar-benar terjun ke dunia politik yang sesungguhnya.
Ia menekankan bahwa pemilihan Ketua OSIS sejatinya adalah laboratorium demokrasi bagi siswa. Lewat proses ini, siswa tidak hanya diajak mencoblos, tetapi juga belajar memilih pemimpin secara adil, menghargai perbedaan pendapat, dan memahami mengapa pengawasan harus ada agar seluruh tahapan berjalan jujur.
Konsep Luber dan Jurdil pun turut dikupas tuntas dalam sesi tersebut. Tola' Ediy menjelaskan enam prinsip yang harus dipegang: pemilihan harus berlangsung secara langsung dan umum tanpa perantara serta terbuka bagi seluruh siswa yang memenuhi syarat, bebas dan rahasia tanpa ada intimidasi maupun tekanan terhadap pemilih, hingga jujur dan adil di mana setiap kandidat serta panitia wajib bersikap sesuai aturan tanpa kecurangan.
Materi kemudian bergeser ke peran pengawasan yang dijalankan Bawaslu. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, Tola' Ediy menegaskan bahwa mencegah selalu lebih baik daripada menindak. Di tingkat sekolah, strategi pencegahan itu diterjemahkan lewat edukasi politik, imbauan netralitas panitia, serta pengawalan terbuka di setiap tahapan Pemilihan Ketua OSIS atau yang akrab disebut Pilkatos.
Tak berhenti di teori, Tola' Ediy juga memaparkan sejumlah potensi pelanggaran yang kerap muncul dalam pemilihan semacam ini, lengkap dengan cara mencegahnya. Politik uang misalnya, sering muncul dalam bentuk sederhana seperti pembagian makanan atau barang dengan embel-embel janji imbalan agar siswa memilih kandidat tertentu. Pencegahannya dilakukan lewat sosialisasi anti-politik uang serta penandatanganan komitmen integritas oleh para calon.
Ada pula ancaman kampanye hitam dan hoaks yang biasanya menyasar media sosial sekolah, mulai dari penyebaran rumor negatif hingga perundungan terhadap lawan. Bawaslu mendorong edukasi literasi digital dan pengawasan aktif atas kampanye di ranah maya sebagai langkah antisipasi. Selain itu, ketidaknetralan panitia pemilihan turut menjadi sorotan, sehingga dibutuhkan kode etik penyelenggara dan pengawasan independen agar Panitia Pemilihan OSIS maupun MPK tidak memihak salah satu pasangan calon. Potensi manipulasi suara saat penghitungan pun tak luput dibahas, dengan solusi berupa transparansi rekapitulasi serta pengawalan saksi dari tiap pasangan calon.
Untuk memastikan Pilkatos berjalan bersih, Tola' Ediy menyampaikan tiga pilar pengawasan yang harus dijaga bersama. Pertama, penyelenggara netral, di mana MPK dan Panitia Pemilihan OSIS dituntut bertindak profesional dan tidak berpihak. Kedua, peserta berintegritas, yakni para kandidat Ketua dan Wakil Ketua OSIS yang berkompetisi secara sehat dengan menjual visi, misi, dan program kerja yang positif. Ketiga, pemilih kritis, artinya seluruh siswa SMK Zainul Hasan 1 Genggong diharapkan mengandalkan rasionalitas dalam menentukan pilihan, bukan sekadar ikut-ikutan teman atau terbujuk tekanan sosial.
Menutup sesi, Tola' Ediy mengingatkan slogan yang menjadi napas kerja pengawasan partisipatif: bersama rakyat awasi pemilu, bersama Bawaslu tegakkan keadilan pemilu. Ia berharap semangat itu bisa ditanamkan sejak bangku sekolah, sehingga ketika kelak terjun sebagai pemilih dalam pemilu sesungguhnya, para siswa sudah terbiasa berpikir kritis dan tidak mudah terpapar praktik kecurangan.
Sesi sosialisasi ini juga diwarnai interaksi hidup antara narasumber dan siswa lewat sesi tanya jawab ringan seputar struktur kelembagaan Bawaslu Kabupaten Probolinggo hingga siapa sebenarnya yang berperan sebagai pengawas dalam pemilihan Ketua OSIS di sekolah mereka sendiri. Antusiasme siswa dalam sesi ini menjadi indikator bahwa pendidikan demokrasi sejak dini, sekecil apa pun skalanya, tetap punya tempat penting dalam membentuk karakter pemilih masa depan.
Penulis & Editor: Alam
Dokumentasi: Ferdinan