Bawaslu Probolinggo Ajak Siswa SLB Kraksaan Kenal Pemilu Inklusif
|
Probolinggo – Suasana aula SLB Dharma Asih Kraksaan terasa berbeda pada Rabu (22/7). Bukan pelajaran biasa yang berlangsung di sana, melainkan sosialisasi kepemiluan yang digelar Bawaslu Kabupaten Probolinggo bertajuk "Fasilitasi Penguatan Pemahaman Kepemiluan Kepada Disabilitas di Kabupaten Probolinggo". Kegiatan ini menyasar siswa-siswi SLB yang telah menginjak usia 17 tahun, kelompok pemilih pemula yang selama ini kerap luput dari perhatian saat pendidikan politik digalakkan.
Ketua Bawaslu Kabupaten Probolinggo, Yonki Hendriyanto, turun langsung sebagai narasumber dalam sosialisasi tersebut. Ia tidak sekadar membacakan materi, tapi mengajak para siswa berdialog santai seputar dunia pemilu. Mulai dari pertanyaan mendasar apa itu pemilu, siapa saja lembaga penyelenggara yang bekerja di baliknya seperti Bawaslu, KPU, dan DKPP, sampai siapa saja yang punya hak untuk memilih.
Yang menarik, materi tidak berhenti pada teori. Yonki turut menjelaskan hak-hak khusus yang melekat pada penyandang disabilitas ketika berada di Tempat Pemungutan Suara (TPS), termasuk pendampingan dan fasilitas yang seharusnya mereka terima agar bisa menyalurkan suara dengan nyaman dan setara. Ia juga memandu para siswa memahami tahapan teknis, dari datang ke TPS hingga proses mencoblos, sehingga bekal yang mereka bawa pulang benar-benar aplikatif.
Menjelang penutup acara, Yonki menyampaikan pesan yang cukup menggugah bagi adik-adik yang saat ini masih berusia 15 tahun. Ia mengingatkan bahwa pada Pemilu 2029 mendatang, usia mereka sudah genap untuk ikut memberikan suara. Baginya, momen ini penting untuk ditanamkan sejak dini agar generasi disabilitas tidak merasa asing dengan proses demokrasi yang sesungguhnya menjadi hak mereka juga.
"Suara kalian sangat penting. Dengan ikut memilih, kalian ikut menentukan masa depan Indonesia yang lebih ramah dan peduli terhadap penyandang disabilitas," ujar Yonki di hadapan para siswa.
Sosialisasi semacam ini menjadi salah satu ikhtiar Bawaslu Probolinggo dalam mewujudkan pemilu yang benar-benar inklusif, di mana setiap warga negara, tanpa terkecuali penyandang disabilitas, memiliki akses dan pemahaman yang setara terhadap hak politiknya. Langkah ini juga sejalan dengan semangat pengawasan partisipatif yang selama ini terus digaungkan Bawaslu hingga ke akar rumput, termasuk kepada kelompok rentan yang selama ini sering terpinggirkan dari ruang-ruang edukasi kepemiluan.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat menjangkau lebih banyak sekolah luar biasa dan komunitas disabilitas lain di Kabupaten Probolinggo, sehingga kesadaran berdemokrasi dapat tumbuh merata di seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang keterbatasan fisik maupun mental yang dimiliki seseorang.
Penulis, Editor & Dokumentasi: Alam