Lompat ke isi utama

Berita

Awasi Coktas, Bawaslu Probolinggo Temukan Data Ganda dan Pemilih di Australia

21 April 26

PROBOLINGGO – Hak pilih masyarakat harus terus dikawal. Demi memastikan daftar pemilih mutakhir dan bersih dari masalah administratif, Bawaslu Kabupaten Probolinggo melakukan pengawasan melekat terhadap proses Pencocokan dan Penelitian Terbatas (Coktas) yang dilaksanakan oleh jajaran KPU setempat pada Kamis (21/5/2026).

Coktas ini merupakan ujung tombak dari tahapan Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) yang saat ini tengah bergulir. Sebagai garda pengawas, Bawaslu hadir langsung di lapangan guna memastikan petugas KPU benar-benar menjalankan prosedur pendataan sesuai regulasi, sehingga tidak ada satu pun hak pilih warga yang terabaikan atau dimanipulasi.

Pengawasan secara jemput bola ini dipimpin langsung oleh Koordinator Divisi Pencegahan, Parmas, dan Humas Bawaslu Kabupaten Probolinggo, Ach. Mawardi Azkiya. Di lapangan, ia mengawal tim KPU Probolinggo yang dikomandoi langsung oleh Ketua KPU, Ali Wafa, yang turun mendata bersama Kasubag Teknis Penyelenggaraan beserta stafnya.

Penyisiran hari itu difokuskan pada dua wilayah, yakni Kecamatan Leces dan Kecamatan Maron. Kehadiran pengawas di lokasi nyatanya sukses merekam sejumlah anomali data. Di Kecamatan Leces misalnya, saat Bawaslu mengawasi jalannya proses coklit terhadap tiga orang warga oleh petugas KPU, ditemukan satu orang yang masuk dalam kategori data ganda.

Cerita yang lebih unik didapati ketika rombongan bergeser ke wilayah Kecamatan Maron. Saat tim penyelenggara menyambangi sebuah rumah, pengawas mencatat adanya satu warga yang namanya masih terdaftar, namun secara faktual yang bersangkutan sudah lama menetap di Australia.

Berdasarkan penuturan pihak keluarga di lokasi, warga tersebut sangat jarang pulang ke Indonesia, bahkan saat momen krusial seperti pemilu sekalipun. Proses verifikasi data oleh tim KPU di rumah itu pun sempat menemui jalan buntu. Sebab, saat petugas menanyakan dokumen kependudukan untuk dicocokkan, keluarga menjelaskan bahwa Kartu Keluarga (KK) asli milik warga tersebut ternyata ikut dibawa ke Negeri Kangguru.

Berbagai temuan faktual dalam pengawasan di Leces dan Maron ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara. Ach. Mawardi Azkiya menegaskan bahwa Coktas adalah filter yang sangat krusial, dan jajaran pengawas pemilu tidak boleh lengah sedikit pun dalam memelototi proses kerjanya.

"Ke depan, pelibatan dari sisi Bawaslu dalam pengawasan tentu akan lebih dimaksimalkan lagi. Harapannya, seluruh unsur pimpinan dan staf bisa ikut melebur, terjun mengawasi langsung jalannya Coktas pada kesempatan-kesempatan berikutnya," ujar Mawardi menutup kegiatan hari itu.

Penulis & Editor: Alam

Dokumentasi: Fauzy